"Semoga Allah merahmati seorang hamba yg menyadari kapasitas dirinya."

Friday, 25 April 20140 comments

assunnahblogger"Semoga Allah merahmati seorang hamba yg menyadari kapasitas dirinya."

Abdullah bin Daud Al-Khuraibi, seorang rawi dengan derajat tsiqah tsabt, salah satu derajat tinggi untuk seorang rawi hadits shahih. Dia menghentikan diri menyampaikan hadits ketika hafalannya sudah tidak akurat lagi.
Banyak rawi hadits semisalnya, sebut saja Ja'far bin Muhammad Al-Firyabi (304 H), seorang imam, hafizh, tsabt, ulama zamannya dan qadhi.
Sampai-sampai Hafizh Abu Ali An-Naisaburi, ketika memasuki Bagdad dan mendapatinya sudah tidak menyampaikan hadits lagi, dia menangis di hadapannya karena merasa sangat rugi.
Karenanya, Adz-Dzahabi memujinya pada biografinya di Siyar A'lamin Nubala': "Sungguh tindakan yg sangat tepat. Dia menyadari adanya perubahan pada dirinya, diapun mengambil sikap wara' dan berhenti meriwayatkan hadits."
Jauh sebelum mereka, sahabat yg mulia, Zubair bin Awwam radhiyallahu anhu, memilih utk tidak banyak meriwayatkan hadits karena takut salah. Sebab Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار
"Barang siapa dengan sengaja berdusta atas namaku maka silahkan dia ambil tempatnya di dalam neraka." (HR. Bukhari).
Al-Kadzib dalam bahasa hijaz memiliki arti "salah". Ini merupakan sikap wara' dan kehati-hatiannya dalam meriwayatkan hadits, yaitu khawatir melakukan kesalahan tanpa sengaja dalam menyampaikan hadits. Dan sikap ini dijadikan madzhab oleh sebagian.
Bandingkan dengan sebagian kalangan yg dengan ringan lidah berbicara tentang agama Allah tanpa ditopang oleh landasan yg kuat. Tidakkah mereka takut dengan hadits diatas?
Faidah:
1. Sebagian ulama membatasi usia utk menyampaikan riwayat, seperti 80 tahun misalnya. Namun yg kuat - insya Allah - seperti praktek para ulama di atas, yaitu kapan seseorang melihat perubahan pada hafalannya sehingga membuatnya berpotensi melakukan banyak kesalahan, maka dia harus berhenti menyampaikan hadits (ilmu). Sehingga usia bukanlah ukuran mutlak. Sebab Syaikhuna Muhaddits Negeri Hijaz Abdulmuhsin Al-Abbad telah melampaui usia 80 th namun ingatan beliau masih segar dan kuat.
2. Satu syarat penting kelayakan seseorang menukil fatwa adalah akurat dalam menukil, dari segi teks dan makna (Syaikh Sulaiman bin Salimullah Ar-Ruhaili).
Rujukan:
Tarikh Dimasyq, Siyar A'lamin Nubala' dan kitab-kitab mushthalah hadits.
Share this article :

Post a Comment

 
ASSUNNAH| Kajian Spot - Hayyil Zarkasi
Supported : Satu Radio Lombok FM 105.4 Mhz | Creating Website | Hayyil dan Zarkasi Themes