PENCITRAAN

Friday, 25 April 20140 comments

PENCITRAAN

Cerita Pembuka:
Tadi pagi saat pelajaran Musthalah Hadits, Dosen kami melontarkan pertanyaan tentang siapakah para ahli ilal (cacat hadits yang tak kasat mata) dari kalangan mutaqaddimin (generasi awal). Ketika beliau menginginkan sebuah nama seorang ulama setingkat Imam Bukhari, kami terdiam. Beliau terus memancing namun tidak berhasil pula. Akhirnya beliaupun menyebut sebuah nama: Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli.

Beliau kemudian mengatakan, “Para mahasiswa, tatkala belajar tentang Imam Bukhari di awal-awal kuliah, mereka membaca tentang apa yang diperbuat oleh Adz-Dzuhli terhadap Bukhari. Karenanya mereka mengabaikannya. Padahal jika dia tidak lebih dari Bukhari, paling tidak setingkat dengannya. Dan Bukhari sendiri mengeluarkan haditsnya dalam Shahihnya.”

Beliau memang benar, sedikitpun tak terlintas di benak saya namanya di deretan para pemuka ahli hadits. Padahal beliau (Imam Adz-Dzuhli) bukanlah sembarang ulama.
Simak apa yang disematkan oleh Imam Adz-Dzahabi pada beliau dalam biografinya: “Imam, Allamah, Hafizh, Jenius, Syaikhul Islam, Ulama penduduk masyriq, Imam Ahli Hadts Khurasan.” (Siyar A’lamin Nubala’: XII/ 274).
Namun seperti itulah, karena “Kesan pertama begitu tidak baik, selanjutnya tidak simpati.” Padahal:
اَلْكَمَالُ عَزِيْزٌ
“Kesempurnaan itu sesuatu yang sulit.” [Silahkan lihat Siyar A’lamin Nubala’: biografi Abdul Wahid bin Zaid Abu Ubaidah Al-Bashri (VII/ 181), biografi Muhammad bin Fudhail bin Ghazwan (IX/ 174) dan biografi Al-Qaffal Asy-Syasyi (XVI/ 285)].

Pesan:
Tentu ini sikap yang sangat tidak adil pada para ulama, khususnya para imam di kalangan mereka. Persis seperti nasib Imam Al-Hakim, ketika tashihnya terkadang (jika tidak mau dibilang sering) dipandang sebelah mata karena dianggap tidak akurat dalam meneliti hadits. Padahal beliau adalah beliau, salah satu rujukan dalam ilmu hadits, khususnya masalah ilal yang tidak semua ulama hadits menguasainya. Adapun ketidak akuratan beliau hanya terdapat dalam kitab Al-Mustadrak Ala Ash-Shahihain saja, itupun tidak semuanya dan beliau punya udzur yang sangat masuk akal.
Lebih parah lagi, jika pandangan tersebut merembet ke masalah lainnya, sehingga seorang penuntut ilmu tidak memberikan seorang ulama sekelas Imam Abu Abdillah Al-Hakim kedudukan yang semestinya.

Kebalikannya, ketika “Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya selalu nomor satu di hati.”
Ironisnya, tak jarang seorang penuntut ilmu ketika sejak awal mengidolakan seorang alim akan menjadikannya tolak ukur. Senang kepada yang direkomendasikan atau didukung oleh idolanya. Menilai “marjuh” setiap yang dikritisi oleh idolanya. Sehingga terjebaklah ia dalam taklid buta meski di waktu sama berteriak anti taklid.

Bukan Muwazanah Hizbiyah.
Sama sekali tidak. Tapi saya sedang membicarakan tentang para ulama yang dianggap ulama oleh para ulama. Kenalilah mereka dan kedudukan mereka, agar tidak menzhalimi mereka di keesokan hari. Sebab kata orang tak kenal maka tak sayang.
Share this article :

Post a Comment

 
ASSUNNAH| Kajian Spot - Hayyil Zarkasi
Supported : Satu Radio Lombok FM 105.4 Mhz | Creating Website | Hayyil dan Zarkasi Themes