BUKAN SAATNYA BASA-BASI!Pelajaran berharga dari kisah Sufyan bin Waki' bin Jarrah Al-Kufi (247 H).
Adz-Dzahabi berkata tentangnya: "Al-Hafizh putra Al-Hafizh, Muhaddits Kufah ... Salah seorang wadah ilmu ..." (As-Siyar: XII/ 152).
Benar, seorang Hafizh putra seorang Hafizh pula. Siapa yang tak kenal ayahnya: Waki' bin Jarrah Al-Kufi.
Namun apa yang terjadi ketika seorang setingkat beliau tidak menerima nasehat, khususnya para ulama?
Ibnu Abi Hatim berkata: "Ayahku menasihatinya agar mengganti tukang tulisnya sebab dia telah merusak haditsnya. Ayahku berkata kepadanya: "Jangan menyampaikan hadits melainkan dari ushulmu." Sufyan menjawab: "Baik, akan ku lakukan." Namun ternyata dia tidak melakukannya. Diapun menyampaikan hadits-hadits yang telah disusupi."
Abu Hatim bin Hibban berkata: "Sufyan bin Waki' adalah seorang yang fadhil dan shaduq. Hanya saja dia dirusak oleh seorang tukang tulis jahat yang mengutak-atik haditsnya, dan dia percaya padanya. Karenanya dia mengikuti apa yang dibacakan untuknya. Diapun dinasihati karenanya namun dia tidak juga berhenti. Maka karena dia tidak mau dinasihati dia berhak untuk ditinggalkan riwayatnya."
Silahkan lihat Siyar A'lamin Nubala' (XII/ 152-153).
BUKAN SAATNYA BASA-BASI!
Ini masalah menjaga agama Allah, tidak perduli engkau siapa, anak siapa, titelmu apa, jika engkau menyebabkan mudharat bagi agama ini, engkau harus diberikan tindakan tegas, demi menjaga agama ini dan menyelamatkan umat dari penyimpangan. Adapun kebaikan-kebaikanmu maka itu urusanmu dengan Rabbmu. —



Post a Comment